MGMP SEJARAH SMA

MGMP SEJARAH SMA
Kegiatan Guru Sejarah SMA se Kab Batang

Selasa, 13 Desember 2011

ASAL USUL BEBERAPA DESA DI KECAMATAN WONOTUNGGAL


LEGENDA DESA-DESA DI KECAMATAN WONOTUNGGAL
(di edit oleh : Nurrochim, S.Pd Guru Sejarah SMA Negeri 2 Batang)

DESA BATIOMBO

Konon kabarnya yang membuka hutan Batiombo untuk dijadikan perkampungan adalah mbah Soleman. Namun mbah Soleman tidak sendirian, ia dibantu oleh mbah Runtah yang membuka hutan yang kemudian dijadikan desa Wonorejo. Selain membuka hutan untuk dijadikan perkampungan mbah Runtah juga membuat persawahan di  Glendeng dan Kali Asem. Juga ada den Usup yang membuka hutan untuk dijadikan desa Sempu. Ketika sedang membuka hutan den Usup menjumpai pohon asem yang ada empunya (penunggunya), maka hutan yang baru dibuka itu dinamakan Sempu. Karena berjasa dalam membuka hutan menjadi desa Sempu den Usup oleh penduduk diberi julukan Mbah Sempu. Selain membuka hutan untuk perkampungan den Usup juga membuat persawahan dan sungai Jamban sari yang mengalir dari Si Kuntung di desa Wonosegoro sampai Kluwak. Setelah meninggal dunia ketiga orang tadi dimakamkan di makam desa Batiombo yang terletak disebelah selatan desa Batiombo.
Pada waktu yang menjadi kepala desa Haji Sabuk didatangkan guru agama dari Mangkang untuk mengajar penduduk dalam soal agama Islam. Sehingga dalam waktu yang cukup lama banyak penduduk yang mengikuti soal agama Islam.
Dalam kisahnya diceritakan pada suatu waktu ada pangeran yang bernama Mbantu kuwat. Pangeran dari Solo itu mengadakan perjalanan adalah dalam rangka melakukan topo broto (laku prihatin). Sewaktu tiba di sebelah selatan desa Batiombo ia berhenti untuk istirahat dan melakukan sholat. Konon kesaktiannya batu yang digunakan untuk alas sholat tadi membekas telapak kaki, lutut, tangan, dahi dan mata. Dan sampai sekarang batu tersebut dapat dujumpai terletak di tepi sebuah sungai sebelah selatan desa Batiombo.


DESA SI LURAH

Konon kabarnya yang pertama-tama membuka hutan untuk dijadikan perkampungan adalah seorang yang bernama Ki Lurah. Oleh karerna itu daerah yang baru dibuka diberi nama Silurah, sebagai pertanda bahwa yang membuka hutan tersebut adalah Ki Lurah.
Setelah Silurah menjadi desa yang ramai, suatu hari desa dilanda pageblug, yaitu apabila ada orang yang sakit pagi sorenya meninggal dunia, demikian pula kalau sakit sore paginya meninggal dunia. Demikian pageblug terus melanda desa tanpa ada yang dapat menghentikannya, hingga suatu hari ada seorang yang bernama Ki Gonel dengan istrinya Ni Gonel yang dengan kesaktiannya dapat melenyapkan pageblug tadi. Sebagai tanda syukur telah berhasil melenyapkan pageblug, penduduk mengadakan syukuran dengan menyembelih seekor kambing kendit, dan kepalanya ditanam di suatu tempat yang bernama Larangan, sedangkan sebagai hiburannya didatangkan ronggeng dengan gamelan yang digunakan untuk mengiringnya yang berasal dari gunung Rogokusumo yang dapat dipinjam asal dengan memberi sesaji.
Adapun cerita yang terjadi pada penduduk bahwa di gunung Rogokusumo dapat dijumpai adanya emas sebesar kerbau. Karena saking besarnya mampu memberi pengaruh warna kuning bagi orang yang lewat disebelahnya.Itulah mengapa disebut dengan gunung Rogokusumo. Di desa Silurah juga dapat dijumpai adanya pertapaan, yaitu tempat orang-orang yang datang dari daerah manapun untuk bertapa di situ. Dan di tempat tersebut dapat dijumpai adanya tempat untuk membakar kemenyan. Sedangkan gamelan yang bisa dipinjam oleh penduduk bila mengadakan hajat sudah tidak ada lagi, yang ada hanya masih tempat gantungan gongnya saja. Karena pada jaman dahulu tiap penduduk yang meminjam ada yang mengembalikannya terlambat tidak sesuai dengan perjanjian, juga kalau ada yang meminjam tidak merawat sehingga menjadi kotor. Sehingga oleh pemilik perangkat gamelan hal itu tidak menjadi berkenan dan gamelan tidak bisa keluar lagi.


DESA SODONG

Ki Ajar Pendek yang berada di Silurah orangnya berangasan, senang membuat onar (senang adu kasekten). Pada suatu saat Pangeran Kajoran yang asal mulanya dari Wonobodro karena ingin menyebarkan agama Islam mereka mengembara mencari daerah yang memungkinkan untuk mendirikan masjid, sampailah di desa Tombo karena sesuatu hal ide pendirian Masjid di Tombo gagal, dan tempat tersebut dinamakan “Ngelo” dan barang siapa lewat di tempat situ pedagang atau pejabat atau bencoleng akan mengalami kehancuran.
Pangeran Kajoran merantau lagi sampai di suatu tempat yang masih hutan belantara dan banyak dihuni babi hutan sedangkan sarang babi hutan namanya “SODONG”.
Di sinilah Pangeran Kajoran ingin mendirikan masjid, adapun persiapan pembuatan masjid, batur lokasinya yaitu depan SD Sodong 01. sekarang bambu yang untuk buat usuk/rangken itu direndang di Paguyangan dan ada yang hanyut sampai di hutan dan tumbuh di situ, hutan tersebut namanya hutan Larangan (kalau mengambil bambu dari situ untuk membuat bangunan maka tidak akan jadi).
Paguyangan tersebut yang membuat adalah Den Bagus Karang/Ki Carang Aking yaitu seorang pengembala kerbau yang berasal dari daerah Blado dan setiap saat orang mengguyang kerbau/memandikan kerbau di situ kerbaunya senang berkelahi dengan batu di tengah guyangan tersebut maka batu itu namanya “Watu Palem”. Den Bagus Karang, karena masih jaman peperangan dia dibutuhkan ke daerah Plelen (Grinsing) dan di Sodong meninggalkan tempat ibadah dekat Peguyangan. Dan setiap bulan Sapar hari Rabu Kliwon sampai sekarang masih ada.
Pangeran Kajoran akan membuat masjid di Sodong tidak jadi karena ketahuan perawan Sunti (perawan yang tidak punya suami) maka sampai sekarang kalau ada perawan yang kasep banyak yang minta petunjuk dengan mbah Tasmi sehingga akan banyak segera mendapat jodoh (banyak yang datang dari daerah yang lain).
Pembuatan masjid juga dibatalkan karena permusuhan antara Ki Ajar Pendek dengan Pangeran Kajoran. Karena keduanya juga orang sakti maka saling mengeluarkan kesaktiannya yaitu Ki Ajar Pendek mengeluarkan hujan cacing maka pangeran Kajoran mengeluarkan hujan itik, dan Ki Ajar mengeluarkan hujan api maka Pangeran Kajoran mengeluarkan hujan angin yang sekarang namanya si angin-angin dan apabila orang (pejabat, orang yang murka) lewat di situ maka akan segera hancur kedudukannya. Pembuatan masjid dilanjutkan dan “SODONG” hanya untuk “NONOB” atau istirahat atau ngaso dan ngandhong (Ngasodong) menjadi SODONG.
Pengikut Pangeran Kajoran yang namanya Kyai Ageng Asmo (Syeh Baitul Iman) yang meninggalkan Candhen/makom yang berwujud Batu Lima cacahnya yang orang sodong mengatakan batu itu sebagai tanda :
1.      Hitungan pasaran           : Kliwon, Manis, Pahing, Puasa dan Haji.
2.      Rukun Islam                    : Sahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji.
3.       Pancasila                       : Berketuhanan, Berkeprimanusiaan, Bersatu Bermusyawarah,      berkerakyatan, Mempunyai rasa keadilan sosial.
Maka orang sodong selalu melewati rasa kegotong royongannya untuk mencapai sukses bersama.


DESA KEDUNGMALANG

Alkisah ada seorang kyai yang bernama kyai Cagak Aking, yaitu anak buah dari Pangeran Diponegoro. Setelah sampai pada suatu hutan yang lebat ia berhenti dan bermaksud membuka hutan tersebut. Namun ketika membuka hutan dan sampai di sebelah utara di situ sudah ada padukuhan Sumber. Sedangkan yang berkuasa di dukuh Sumber adalah Sutojoyo dan mbah Sarinten yang waktu itu sedang memperluas wilayahnya ke selatan. Di tengah-tengah kedua wilayah tersebut mereka bertemu dan terjadilah adu kekuatan antara kyai Cagak Aking melawan Sutojoyo yang dibantu oleh mbah Sarinten. Setelah bertempur sekian lama ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Akhirnya tempat beradunya dua penguasa tadi diberi batas berupa patok dari batu (sampai sekarang masih dapat dijumpai). Setelah kejadian tersebut Sutojoyo dan mbah Sarinten membuat saluran air untuk mengairi sawah. Sewaktu sedang beristirahat dan akan menjalankan sholat, datanglah seekor ular besar yang bermaksud akan mengganggu. Ular besar tersebut adalah utusan dari kyai Cagak Aking yang masih dendam terhadap Sutojoyo dan mbah Sarinten. Oleh Sutojoyo ular tersebut berhasil dibunuh dengan sebilah pedang dan dipotong-potong menjadi tiga bagian. Ekornya tidak diketahui kemana jatuhnya, badannya jatuh di sungai Kupang dan membendung sungai tersebut sehingga menjadi sebuah kedung yang malang. Melihat kejadian tersebut anak buah Sutojoyo dan mbah sarinten melaporkan kepada mbah Nompoboyo. Kemudian oleh mbah Nompoboyo disarankan agar kedung yang malang tadi supaya dijadikan nama desa yang baru dibuka oleh kyai Cagak Aking. Maka jadilah desa tersebut dengan nama Kedungmalang.
Adapun kepala ular tadi jatuh di saluran Sekung yang terletak di sebelah barat desa Kedungmalang. Karena di situ banyak tumbuh pohon pucung yang berderet-deret, maka tempat tersebut diberi nama Pucung Kerep. Dan sampai sekarang pohon pucung tesebut masih dapat dijumpai. Setelah kyai Cagak Aking meninggal dunia dimakamkan di sebelah barat desa Kedungmalang dan oleh masyarakat tempat tersebut sampai sekarang masih dikeramatkan.


DESA SENDANG

Tersebutlah seorang yang berasal dari desa Wonotunggal yang bernama nyai Mogosari. Suatu hari ia mengadakan perjalanan ke selatan dan sampai pada suatu tempat yang ada sumber air (sendang) yang diapit oleh dua pancoran. Oleh kyai Pancoran tempat tersebut diberi nama Sendang Kapit Pancoran. Kemudian nyai Nogosari membuka hutan untuk dijadikan perkampungan yang diberi nama Sendang Larangan. Sendang tersebut diberi nama Sendang Larangan karena tempat tersebut ada larangannya. Konon menurut ceritanya dulu apabila ada orang yang bersalah (pencuri, perampok) pasti akan dapat ditangkap. Namun sekarang penduduk tidak mempercayainya lagi, semuanya diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah desa Sendang Larangan menjadi ramai, nyai Mogosari kembali membuka hutan untuk dijadikan perkampungan lagi. Kampung tersebut karena dibuat terakhir (paling akhir atau anyaran) maka diberi nama Sendang Anyaran.
Setelah masing-masing pedusunan menjadi ramai dan memerlukan pemerintahan yang jelas, maka ketiga dusun tadi dijadikan satu dengan nama desa Sendang. Hal ini mengingat ketiga pedusunan tadi memakai nama Sendang, dan nama Sendang mewakili ketiganya.


DESA WONOTUNGGAL

Konon kabarnya yang pertama membuka hutan Wonotunggal adalah Ki Gede Singosari yang berasal dari Majapahit. Pengikutnya bernama mbah Embo dan mbah Sarinten. Pada jaman dahulu pedukuhan-pedukuhan tersebut masih berdiri sendiri yaitu Sumber, Tegalsari, Siwunut dan Wonotunggal. Kemudian dijadikan satu dengan nama desa Wonotunggal.
Diceritakan pada suatu waktu ada seorang pengembara yang bernama bang Bintulu. Dalam pengembaraannya ia sampai di hutan yang lebat. Di situ ia beristirahat sambil tiduran ia merasakan angin yang semilir/silir-silir dan asri. Kemudian ia berujar kalau suatu saat nanti dan jaman berubah tempat itu menjadi ramai maka diberi nama Tegal Sari (pategalan yang asri).
Sedangkan yang membuka desa Sumber konon kabarnya adalah wali Depok dan membuka desa Siluwok adalah putri Siluwok.
Konon kabarnya di dukuh Silwunut pada setiap bulan Jumadil awal selalu diadakan selamatan desa/nyadren dengan mengadakan pagelaran wayang tersebut Ki dalangnya harus selalu tetap, tidak boleh ganti-ganti. Pernah suatu ketika dalangnya diganti, oleh kejadian tersebut rakyat tidak merasa tenteram. Ada kejadian-kejadian aneh yang selalu menimpa penduduk dengan pergantian dalang tersebut.

DESA BROKOH

Dahulu kala ada seorang wali Ajar yang bernama Ki Ajar Kupang, menurut ceritanya bahwa dalam mengerjakan pekerjaan tidak pernah selesai, hanya satu pekerjaan yang dapat diselesaikan yaitu membuat saluran wura wari. Pernah suatu ketika Ki Ajar Kupang akan membuat masjid, tetapi tidak selesai. Adapun bekas-bekasnya sekarang masih dapat dijumpai yaitu terletak di belakang rumah kepala dusun, yaitu berupa sumber air yang berasal dari kolam yang konon dulu akan dijadikan tempat untuk berwudhu. Sumber air tersebut sekarang digunakan untuk mengairi sawah di sekitarnya.
Daerah Kupang konon kabarnya dulu merupakan hutan jati yang sangat lebat tidak ada pohon lainnya. Setelah dibuka dan dijadikan perkampungan oleh Ki Ajar Kupang, tempat tersebut diberi nama desa Kupang, yang berasal dari nama orang yang membuka hutan tersebut yaitu Ki Ajar Kupang. Makin lama desa Kupang berkembang menjadi desa yang ramai, hingga memerlukan sebuah masjid  untuk menjalankan sholat bagi orang-orang Islam yang sudah menjadi anak buah/pengikut Ki Ajar Kupang. Maka suatu hari untuk keperluan pendirian tersebut Ki Ajar Kupang Memerlukan atap untuk masjid. Namun mencari bahan untuk membuat atap di desa Kupang tidak memperoleh. Kemudian Ki Ajar Kupang mencari di daerah lainnya sambil memperluas wilayah desa Kupang. Sampailah pada suatu hari di tempat sebuah bukit kecil yang banyak ditumbuhi oleh tanaman pandan. Oleh anak buahnya daun pandan tadi dijadikan sebagai bahan untuk membuat atap masjid. Karena hanya daerah situ saja yang ada, maka anak buah Ki Ajar Kupang lalu menetap. Kemudian mereka memberi nama daerah tersebut dengan nama Sipandan. Tetapi lambat laun karena logat bicara orang-orang berubah menjadi Sipandak.
Juga diceritakan suatu saat mbah Nompoboyo sesepuh desa Wonotunggal yang mengutus putra angkatnya yang bernama Bromosari utuk memadamkan pemberontakan di suatu tempat. Namun Bromosari kalah sakti dari pimpinan pemberontak tadi dan meninggal dunia. Oleh pengikutnya ia dimakamkan di tempat itu dan kemudian tempat tersebut diberi nama desa Brokoh. Oleh penduduk dipercaya kadang-kadang dapat dijumpai bunyi seekor kuda yang lari dari belakang balai desa tempat Bromosari dimakamkan dengan bunyi gemerincing yang konon membawa pakaian perangnya.
Di desa Kupang dapat ditemui adanya batu gajah yang dipercaya sebagai tunggangan Ki Ajar Kupang. Selain itu juga ada batu ronggeng yang terletak di tepi sungai. Konon kabarnya dulu Ki Ajar Kupang nanggap ronggeng oleh anak buah Ki Ajar Kupang, ronggeng tadi digoda. Karena merasa terganggu dan tidak mau digoda ronggeng tadi melarikan diri, namun di tengah jalan berjumpa dengan Ki Ajar Kupang. Karena Ki Ajar Kupang merasa nanggap padahal pertunjukan belum selesai tetapi ronggeng tadi melarikan diri. Hal ini membuat Ki Ajar Kupang marah-marah dikutuklah ronggeng tadi menjadi batu.


DESA WATES

Banyu Werno : Pada waktu itu Baurekso sedang menyembunyikan Dewi Ratna Sari di sebuah hutan. Sewaktu Dewi Ratna Sari mau mencari sumber air, di situ ada sumber air yang berwarna-warni. Kemudian ia mengambil air tersebut untuk mencuci beras, namun setelah dicuci beras tersebut untuk mencuci beras. Namun setelah dicuci beras tersebut  sampai beberapa hari tidak masak. Karena tidak masak (menjadi nasi) beras tadi dibuang dan menjelma menjadi batu, dan batu tersebut diberi nama Batu Beras, setelah itu Dewi Ratna Sari melapokan kepada pangeran Baurekso akan kejadian tadi kemudian pangeran Baurekso mandi pada sumber air tadi dan mendapatkan daya kelebihan kesaktiannya berlipat, kemudian Baurekso berujar suatu saat nanti tempat itu diberi nama Banyu Werno. Setelah aman pangeran Baurekso pulang kembali ke Mataram.
Pungangan  : Alkisah ada kyai bernama Cermin waktu itu kebingungan mencari empu, guna membuat dua buah keris dan berjumpa dengan seorang yang sedang menyabit rumput, terhadap orang tersebut maksudnya diutarakan orang tersebut memerintahkan supaya mendekati wanggan/sumber mata air. Setelah dekat ternyata orang yang sedang menyabit tersebut adalah seorang wali dengan nama wali Supo. Akhirnya keris tersebut dibuat oleh wali Supo, kemudian diberi nama Pungangan, yang artinya empu di tepi wangan/saluran. Setelah keris diserahkan kepada kyai cermin, empu tadi hilang tidak tahu rimbanya.
Getas/Gebryur : waktu Ki Ajar Kupang sedang memperluas wilayahnya di wilayah Kupang, sampai sebelah barat hutan jati, dipanggil oleh ratu pantai selatan, setelah sampai di sana ada seorang perempuan/putri yang sedang termenung, terus ditanya oleh Ki Ajar Kupang mengapa duduk di situ, si perempuan dimarahi oleh ratu pantai selatan karena tidak punya pisau untuk mengiris-iris bumbu dapur. Kemudian oleh Ki Ajar Kupang ia diberi pisau, sambil diujar, nanti kalau sudah selesai mohon dikembalikan. Setelah itu Ki Ajar Kupang kembali ke Kupang guna memperluas wilayah. Kemudian setelah selesai anak putri tadi menyusul akan mengembalikan pisau tadi dengan diselipkan di perut, akhirya ketemu lagi dengan Ki Ajar Kupang. Kemudian ditanya oleh Ki Ajar Kupang di mana meletakkan pisau tadi. Si perempuan tadi mengatakan kalau pisaunya diselipkan di perut. Melihat itu Ki Ajar Kupang mengatakan kalau pisau tadi diselipkan di perut bisa hamil. Dan ternyata benar-benar perempuan tadi hamil, karena hamil dan tidak punya suami padahal ia putri modin karena bapaknya marah, kemudian ia diusir. Setelah cukup besar kandungannya bisa bicara, dan meminta kepada ibunya kalau nanti melahirkan jangan di hutan, tapi di atas batu besar di tepi sungai setelah lahir ternyata bayi tadi berwujud ular. Karena telah melahirkan dan tidak punya suami sedangkan nasibnya perlu dikasihani maka ia mendapat julukan si Rondo Kasihan. Kemudian si Rondo Kasihan menyepak ular tadi hingga jatuh ke dalam sungai (jatuh ngeguyur). Waktu itu Ki Ajar Kupang mengetahui dan tempat tersebut diberi nama Getan Gebyrur. Setelah melahirkan si Rondo Kasihan kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di desa Gebyrur. Kemudian setelah besar ular anak si Rondo Kasihan mencari Ki Ajar Kupang. Dalam pencarian itu ia melewati sebuah gunung dan gunung tersebut tugel/ putus terkena tubuhnya, maka kemudian tempat tersebut diberi nama Gunung Tugel.
Wates  : Dulu ada seorang kepala desa yang mempunyai istri, satu di Pungangan dan satu lagi di Getas Gebyrur, karena kesulitan untuk berkomunikasi, akhirnya kepala desa tadi bertempat tinggal di tengah-tengah antara Getas Gebyrur. Tempat tinggal kepala desa itu dinamakan Desa Watas, karena merupakan batas/watas antara Getas Gebyrur dan Pungangan.


DESA SIGAYAM

Tersebutlah kyai Gede Singosari yang merasa kalah lalu melarikan diri dan sampai pada sebuah hutan lebat. Namun ia tidak membuka hutan itu melainkan hanya beristirahat saja dan mengambil sebagian tempat saja yaitu disekitar pohon jati siroyom. Kemudian tempat itu dinamakan Losari mengambil nama belakang kyai Gede Singosari.
Pada suatu ketika datanglah dua orang suami istri yaitu kyai Sundoro dan kyai Sundari. Sesampai di daerah sekitar Losari mereka bermaksud untuk membuka hutan, tapi mungkin karena kewibawaan tempat tersebut dan kyai tersebut tidak dapat melawannya akhirnya kedua suami istri itu kembali naik ke hutan sebelah atasnya. Dan dari tempat itulah kemudian mereka kembali membuka hutan dan berhasil. Sebagai peringatan maka ditanamlah pohon gayam. Pohon tersebut tumbuh besar sampai berbuah dan kyai Sundoro sudah bisa melihat buahnya. Setelah cukup lama menetap di situ kyai Sundoro meninggal dunia, oleh penduduk dimakamkan di sebelah barat desa. Dan sebagai tanda penghormatan kepada orang yang telah berjasa membuat pemukiman penduduk, maka desa yang terbentuk itu diberi nama desa Sigayam. Mengambil dari nama pohon yang ditanam oleh kyai Sundoro sewaktu hidup. Akhirnya tempat tersebut menjadi ramai setelah penduduk banyak yang berdatangan dan ada pula yang membuka hutan lagi untuk memperluas wilayah desa Sigayam.


DESA SIWATU

Konon kabarnya ada dua orang suami istri yaitu kyai Selogati dan istrinya nyai Selogati. Kedua suami istri tersebut membuka hutan lebat yang akan dijadikan perkampungan. Ketika sedang membuka hutan mereka menemukan sebuah sumur yang penuh dengan batu. Oleh karena itu tempat tersebut untuk mudahnya diberi nama Sumur Watu yang kemudian lambat laun ejaanya berubah menjadi Siwatu. Lambat laun desa Siwatu berkembang menjadi sebuah desa yang ramai. Setelah cukup lama mengabdi pada desa Siwatu kyai Selogaati meninggal dunia. Oleh penduduk dimakamkan di sebelah timur desa Siwatu dan tempat makam itu disebut dengan Lemah Kesucian, konon kabarnya di sekitar wilayah tersebut tidak bolah dijadikan tempat pagelaran wayang kulit. Dan sampai sekarang pun penduduk tidak ada yang berani melanggar pantangan itu.
Selain itu di wilayah desa Siwatu juga dapat dijumpai sebuah dukuh dengan nama Sitotok. Konon kabarnya yang membuka daerah tersebut aalah kyai Kloneng. Sewaktu membuka hutan ia menemukan sebuah totok/tempurung kura-kura besar. Oleh karena itu tempat tersebut diberi nama Sitotok. Demikianlah akhirnya Sitotok berkembang menjadi desa yang ramai. Selain desa Sitotok juga ada Kepompongan. Di dukuh Kepompongan ini dapat dijumpai tempat yang bernama Kebutuh. Konon kabarnya tempat itu diberi nama Kebutuh karena pada suatu ketika pecah perang antara barat dan sebelah timur sungai. Sewaktu tentara dari sebelah barat mau menyerang timur tiba-tiba datanglah banjir besar sehingga penyerangan tidak diteruskan karena terhalang (dalam bahasa jawa kebutuh) banjir tadi. Dan konon kabarnya kuda beserta peralatan perang sang senopati dikubur di tempat itu karena tidak jadi mengadakan penyerangan. Demikian sebagai peringatan tempat tersebut diberi nama Kebutuh.


DESA DRINGO

Dulu ada seorang yang sakti bernama Sutojoyo. Karena kesaktiannya ia sanggup membuka hutan seorang diri. Begitulah dengan ketekunannya di hutan yang semula lebat bisa menjadi perkampungan yang ramai. Namun sayang perkampungan tersebut belum mempunyai nama. Hingga suatu ketika lewatlah seorang Adipati dari daerah Cirebon yang mau menghadap sang ratu di Mataram. Sewaktu lewat di tempat tersebut kudanya terantuk pada akar yang merintang, dan kuda beserta penunggangnya jatuh ke tanah dan kuda itu mati. Kuda yang malang tersebut oleh sang adipati diberi nama Dringo. Dan di tempat itu pula kuda tersebut dikubur. Dan sebagai pertanda bahwa tempat tersebut adalah tempat menguburkan kuda kesayangannya, sang adipati memberi nama tempat tersebut dengan nama desa Dringo.
Konon diceritakan bahwa di sebelah barat desa Dringo hidup seorang tua yang bernama mbah Engkuk. Mbah Engkuk mempunyai peliharaan seekor cacing yang sebesar kendang (besar namun panjangnya kira-kira satu meter). Adapun cacing tersebut hidupnya di rawa. Suatu hari mbah engkuk mengambil cacing tersebut, namun ketika sampai di darat cacing tersebut hilang entah kemana. Kemudian tempat tersebut oleh mbah Engkuk diberi nama dengan desa Rowocacing. Adapun rawa-rawa yang ada dapat dijumpai tiap musim hujan, namun pada musim kemarau air rawa tersebut tidak ada lagi.


DESA PENANGKAN

Dulu ada seorang prajurit yang bernama Joko Loyoyang melarikan diri dan bersembunyi di belik/sumber air Sinongko. Disebut Sinongko karena sumber air tersebut berada di bawah pohon nangka Wasi (nangka yang sudah tua dan besar sekali). Sewaktu duduk beristirahat ada buah yang masak dan jatuh ke tengah sumber air, dan oleh Joko Loyo diambil dengan maksud akan dipotong-potong untuk dimakan. Namun ketika pedang yang ia gunakan tidak berhasil memotong buah nangka dan jatuh bersama Joko Loyo ke dalam air sumber air tersebut. Tanpa didasari ternyata membuat Joko Loyo membuat sakit. Karena merasa sudah mampu, maka Joko Loyo membuka hutan seorang diri untuk dijadikan perkampungan. Olehnya kampung yang baru dibuka itu diberi nama dengan Penangkan, artinya tempat beradanya pohon nangka.
Konon diceritakan, pada suatu hari ada utusan dari Dracik yang mencari di mana sebetulnya tempat petilasan dari Joko Loyo. Dalam perjalanan mencari petilasan tersebut ia selalu mengambil tanah dan menciumnya untuk mengetahui petilasan Joko Loyo. Demikianlah hal itu dilakukan berulang-ulang hingga sampai di daeah Penangkan. Ketika mengambil tanah di situ dan menciumnya, ia merasa cocok bahwa di tempat itulah petilasan Joko Loyo berada. Kemudian sebagai pertanda bahwa itu merupakan tempat petilasan Joko Loyo ditanamlah pohon mangga. Dan sampai sekarang pohon mangga tersebut masih ada di atas petilasan Joko Loyo.
Di desa Penangkan ada suatu tempat yang namanya Siguo, konon kabarnya di tempat itu dulu ada seorang yang pertapa yang berasal dari Kesesi. Setelah bertapa tersebut pulang dan di desanya ia terpilih menjadi kepala desa. 50 meter ke bawah dari Siguo dapat dijumpai sebuah batu besar. Penduduk menyebutnya dengan nama batu Gedogan (kandang kuda). Konon kabarnya dari tempat itu kadang terdengar suara kuda yang sedang meninggalkan kandang (gedogan) oleh karena itulah batu itu dinamakan batu Gedogan. Dan oleh penduduk tiap malam jumat kliwon dalam bulam Suro diberikan sesaji berupa katul dan tetes. Dan 200 meter ke bawah lagi dapat dijumpai makam dari :
1.      Syeh Siti Jenar
2.      Syeh Jambu Karang
3.      Syeh Jambu
4.      Syeh Maulana.
Keempat orang tersebut berada dalam satu makam dan berada di bawah pohon mangga. Makam tersebut ditandai dengan sebuah batu yang oleh penduduk dinamakan batu Lumpang, karena bentuknya seperti Lumpang (tempat menumbuk padi). Konon kabarnya apabila batu tersebut disingkirkan pasti akan kembali lagi ke tempat semula dengan sendirinya.
Sedangkan pedukuhan yang lain adalah Wonoedi. Konon kabarnya yang membuka hutan tersebut adalah mbah Rasup. Dinamakan Wonoedi karena hutan di daerah tersebut itu indah (dalam bahasa jawa edi) kemudian hutan (wono) yang indah (edi) tersebut digunakan untuk memberi nama desa yang baru dibuka oleh mbah Rasup sebagai tanda bahwa di tempat tersebut semula hutannya indah. Di dukuh Wonoedi dapat dijumpai sebuah mata air yang oleh penduduk dipercaya berasal dari Bismo. Mata air tersebut dapat dijadikan tanda, yaitu kalau airnya berwarna putih akan ada penduduk yang meninggal dunia. Hal itu sampai sekarang masih bisa dijumpai dan penduduk mempercayainya.

4 komentar:

  1. Makasih atensinya coba cari info lebih jelas kepada BpNurrokhim SMA N 2 Batang

    BalasHapus
  2. hai pak saya sangat mengapresiasi tulisan anda ini, sangat membantu saya untuk belajar sejarah di daerah kita ini, namun sayang materi sejarah daerah nampaknya belum menjadi materi di sekolah2 umum hanya sebatas cerita saja

    BalasHapus
  3. desa Batiombo masih asuk wilayah Kec. Bandar, maaf sekedar meluruskan saja... terimakasih informasinya, sangat membantu sekali

    BalasHapus