MGMP SEJARAH SMA

MGMP SEJARAH SMA
Kegiatan Guru Sejarah SMA se Kab Batang

Rabu, 11 April 2012

Kiriman Bapak Entjeng S Sudjana, pemerhati sejarah Batang


 MELACAK JEJAK-JEJAK KERAJAAN MAHASIN

                                                                        Oleh : Entjeng S.Sudjana

            Sore itu sekawanan burung bergerombol menuju sarangnya setelah seharian “menjarah” persawahan siap panen di desa Masin. Sepotong kaca di selokan kecil yang airnya kotor berkilau diterpa matahari senja. Jalanan utama di desa yang sejak lama dikenal sebagai pengrajin kulit itu sekarang tampak lengang menjelang adzan magrib berkumandang. Tidak ada yang luar biasa di desa Masin . Suasana keseharian desa dalam wilayah kecamatan Warungasem Kabupaten Batang Jawa Tengah itu seperti halnya desa-desa lain di kawasan pantura tampak sederhana dan agamis. Tapi tokoh terkemuka sejarawan Indonesia  Purbatjaraka menetapkan bahwa di desa Masin inilah pusat kerajaan Mahasin berada. Mahasin adalah sebuah kerajaan yang disebut-sebut dalam berita Cina yang diperkirakan berdiri pada Abad VII M yang sampai saat ini terus “diburu” sejarawan karena diyakini sebagai prolog lahirnya Borobudur dan Prambanan. Sejarawan lain ,  Slamet Mulyana  dalam bukunya “Dari Holotan ke Jayakarta”  menyimpulkan bahwa Mahasin  itu tidaklah lain dari Tarumanegara . Menurut dia Kerajaan tertua di Indonesia setelah Kerajaan Kutai itu sesudah ditaklukan  oleh kerajaan Sriwijaya  disebut Bhagasin kemudian jadi  Bekasi yang ditransilitasikan oleh seorang pendeta Cina bernama I tsing yang pernah berkunjung di Mahasin   menjadi Mo -ho -hsin.   Menurut I tsing yang dikutip Slamet Mulyana dalam buku tsb.  Kerajaan Mahasin terletak di laut selatan antara Shih -li-fo-shih  (Sriwijaya) di Palembang dengan Ho-ling (Keling) yang di lokasikan di  lembah sungai berantas (Jawa Timur).
            Pendapat Slamet Mulyana  saat ini diterima luas karena  argumentasi ilmiah dalam bukunya “Dari Holotan ke Jayakarta” sangat meyakinkan, tapi sebenarnya pendapat Purbatjaraka yang berpendapat bahwa lokasi kerajaan  Mahasin terletak di desa Masin jauh lebih masuk akal. Hal itu didukung faktang fakta  berupa : peranan desa Masin dalam sejarah,  kondisi fisik desa Masin yang cukup meyakinkan seandainya dijadikan  pusat kerajaan Abad VII,  adanya temuan arkeologi klasik disekitar desa itu,  adanya toponim yang sama atau sekurang-kurangnya mirif dengan toponim Mo – ho - hsien, dan  adanya keterkaitan suatu peristiwa dengan peristiwa lain dalam  kesesuaian kisi-kisi waktu.
            Sejarah mencatat sejak jaman klasik (jaman Hindu dan Budha) desa Masin  telah berperan.  Menurut prasasti Erlangga   l032 M , raja Erlangga pernah datang di desa Masin untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Dalam prasasti itu disebutkan raja Erlangga menghadiahkan desa baru kepada   penduduk Masin sebagai balas budi pada penduduk desa itu yang banyak membantunya . Kemudian pada jaman Islam , Masin menjadi pusat penyebaran Agama Islam ditandai adanya  makam ulama besar  Syeh Tolabuddin. Lalu pada jaman Mataram , Sultan Agung menugaskan  Adipati Manguneng  sebagai penguasa Batang dan Pemalang berkedudukan di Masin.  Sultan Agung juga pernah memberi tugas kepada kakak beradik , yaitu Mandurorejo sebagai Adipati Batang dan Uposonto , adiknya sebagai adipati Pekalongan. Dan pada jaman Belanda sampai  menjelang perebutan kemerdekaan, Masin  berstatus sebagai sebuah distrik. Dengan demikian denyut kehidupan telah berdetak di desa Masin sekurangnya dua belas abad.   Saat ini yang  tersisa dari  desa Masin dan desa-desa sekitarnya seperti desa Sijono, Menguneng, Sawah Joho, Lebo, dan Kalisalak adalah profil pedesaan dikelilingi persawahan tetapi jalan-jalan, gang-gang dan kelokan-kelokan dalam desa-desa tersebut  membentuk labirin yang sangat ruwet yang dapat membuat orang tersesat.   
            Secara fisik desa Masin merupakan dataran rendah yang subur sehingga tidak aneh jika sejak dahulu kala menjadi tempat   pemukiman. Desa ini diapit dua pelabuhan  yaitu pelabuhan Batang dan Pekalongan. dengan sungai-sungai besar dan kecil bermuara dikedua pelabuhan tersebut. Sekitar l2 km dari Masin  terdapat bukit bernama Ujungnagoro yang tinggi nya  l3 meter  menjorok ke laut yang sangat bagus dijadikan tempat mengintai kedatangan kapal musuh. Desa Masin dialiri  sebuah sungai besar bernama sungai Loji  yang bermuara di Pelabuhan Pekalongan. Sungai Loji dengan ketiga anak sungainya yaitu sungai Kupang, Retno dan Sumilir diperkirakan berperan penting bagi komunitas Abad VII karena banyak temuan arkeologi Abad VII seperti patung, lingga , yoni dan pecahan tembikar  ditemukan ditepian sungai-sungai tersebut. Dengan demikian fisik dan geografi desa Masin cocok untuk dijadikan pusat kerajaan, bahkan siapapun orangnya yang pada Abad VII mendirikan keraton disana pastilah orang itu akhli strategi ulung.         Adalah wajar jika ada orang meragukan desa Masin sebagai pusat kerajaan Abad  VII  karena di lokasi  desa ini tidak ditemukan  candi, patung, sisa bangunan keraton maupun peninggalan sejarah lainnya. Tapi nanti dulu, hal ini mungkin ada kaitannya  dengan  berita Cina dari periode  Dinasti Tang, bahwa  bangunan-bangunan kota kerajaan di Jawa periode Jawa Tengah ( Abad VI s/d Abad X M) ,”tembok-tembok kotanya hanya terdiri dari papan-papan kayu , sedangkan bangunan-bangunan besar tempat tinggal raja dan para keluarganya  dibuat berlantai dua dengan menggunakan atap daun palma” (Supratikno Raharjo : 2002,343). Dalam kondisi demikian wajarlah jika kerajaan Mahasin tidak meninggalkan bekas keraton. Selain itu disepanjang jalur pantura hampir tidak dapat ditemukan peninggalan jaman klasik, mungkin karena ulah manusia atau karena bergesernya garis pantai selama berabad-abad akibat  rob, erosi dan abrasi. Tapi sekitar 7 km sebelah selatan desa Masin, tepatnya di desa Silurah kecamatan Wonotunggal  yang letaknya agak terpencil dikaki gunung Rogokusumo  ditepian sungai Sumilir,  terdapat tempat “misterius” mirip bunker alam yang terkesan angker terdapat patung Ganesya dengan langgam Cibuaya I , sebuah arca tidak berkepala dan semacam kolam kuno  yang dulunya mungkin berfungsi sebagai petirtaan. Tidak jauh dari tempat ini , ditepian sungai Kupang, terdapat watu gilang tempat duduk raja, lingga semu, watu ronggeng  dan relief gajah buaya , kesemuanya  dilihat dari langgam dan gaya pahatannya  sejaman dengan patung Ganesya di Silurah. Relief  gajah-buaya  yang ditemukan ditepian sungai Kupang itu sangat menarik, menggambarkan gajah, buaya , garuda  dan tangan manusia . Relief semacam ini konon didunia hanya ada dua buah, yang satunya lagi berada di Mysore India. Masih banyak  temuan  arkeologi  di desa dan kecamatan dalam wilayah kabupaten Batang  yang menunjukan bahwa ditempat itu terdapat  kerajaan  atau bagian dari kerajaan , hanya sayangnya belum mengarah pada penyebutan nama sebuah negara..
             Paktor lainnya yang memperkuat dugaan desa Masin sebagai pusat kerajaan Mahasin adalah adanya toponim yang sama  atau mengarah pada toponim “Mo-ho-hsien.” Menurut Buku Sejarah Batang “  yang disusun Pemerintah Kabupaten Batang pada tahun l993 , kerajaan Mahasin dipimpin oleh raja sekaligus pendiri kerajaan tsb bernama Sana  . Nama “Sana “ tidaklah asing dalam sejarah Nusantara, karena muncul dalam “Carita Parahyangan” dan “Pustaka Raja-Raja I Bhumi Nusantara “ serta dalam prasasti tertua yang ditemukan di P.Jawa yang berangka tahun 732 M yakni prasasti “Canggal”. Raja Sana atau Sena yang biasa dipanggil Bratasena atau Mahasena semula adalah raja Galuh yang dikudeta oleh adik kandungnya sendiri bernama Purbasora. Tapi nasib mujur Sana dan prajuritnya yang setia  dapat menaklukan    Medang Kamulan, sebuah kerajaan yang diperkirakan terletak di lereng gunung Kamulan , sekarang  termasuk Wilayah  kecamatan Blado, Batang,sekitar l5 km dari Masin.  Sana yang  berambisi  untuk menguasai perdagangan   mungkin memindahkan pusat kerajaannya  ke tempat yang lebih dekat dengan lautan serta mengganti nama keratonnya dengan  namanya sendiri  “Mahasena “..Dalam kaitan inilah toponim Mo-ho-hsien, yaitu nama negara yang dikunjungi  I tsing  sangat mirip  dengan Toponim “Mahasena”, nama kerajaan yang didirikan Sana.
            Keterkaitan manusia, benda dan peristiwa  dalam kisi kisi waktu akan semakin memperkuat dugaan bahwa Mahasin itu memang berlokasi di Masin.  Dalam prasasti Canggal     diceritakan keperkasaan raja Sana dalam menaklukan musuh-musuhnya  sehingga wilayah Mahasin semakin luas  dan mungkin pada saat itu telah mampu  menguasai jalur perdagangan Batang, Pekalongan, Pemalang ,  dan Tegal .  Sadar akan bahaya yang senantiasa mengintai setiap saat, raja Sana  mengungsikan putra mahkotanya yang bernama Sanjaya yang baru berumur 7 tahun ke tempat tinggal mertuanya di lereng Bgunung  Merapi. Kelak Sanjaya akan menjadi tokoh terkemuka  pendiri dan raja pertama Medang I Bhumi Mataram. Perkiraan raja Sana samasekali tidak meleset, karena pada tahun 686 M datanglah serbuan Sriwijaya .  Armada Sriwijaya  seperti tsunami yang menyapu kerajaan -kerajaan yang ada di bumi Jawa yaitu  Mahasin, Tarumanagara dan Kholing (Kaling). Serangan Sriwijaya atas Bhumi Jawa itu diabadikan dalam Prasasti Kota Kapur, sedangkan penguasaan Sriwijaya  atas Mahasin  tersirat dalam prasasti Sojomerto. Seiring dengan itu munculah tokoh paling terkemuka dalam sejarah Nusantara jaman klasik yaitu Dapunta Selendra atau lebih dikenal dengan nama Dapunta Sailendra, mungkin tokoh tsb adalah panglima tentara Sriwijaya yang  menyerbu Bhumi Jawa.  Atas jasa-jasanya menaklukan Bhumijawa, maka Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Jayanagara menobatkannya  menjadi  raja Mahasin. “Nama Mahasin “ tetap dipertahankan  oleh penguasa baru  itu dengan dua alasan, pertama, dari berita-berita Cina diketahui setelah tahun 686   Mahasin masih mengirimkan upeti ke negeri Cina, dan fakta menunjukan bahwa walaupun nama Sailendra terkenal sampai di mancanegara, tapi nama kerajaan dari Dinasti Sailendra di pulau  Jawa itu tidak diketahui orang. Hal itu erat berkaitan dengan karakteristik kerajaan Sriwijaya sebagai  negara maritim, walaupun memiliki armada yang sangat kuat  tidak punya kekuatan  mengontrol semua aspek kehidupan negara-negara yang ditaklukannya .  Karena itu putra Mahkota Sanjaya dibantu sisa-sisa laskar Mahasin yang setia mendapat peluang untuk konsolidasi dan berhasil mendirikan kerajaan baru Medang I Bhumi Mataram. Kelak  antara Mahasin dibawah penguasa baru dan Medang I Bhumi Mataram bukan saja tidak saling menjatuhkan malahan  bersimbiose dan saling membutuhkan sehingga  masing-masing menjadi negara yang besar.
            Persoalan lain yang perlu dijawab ialah , “apa sebabnya atas negara yang sama mendapat sebutan berbeda ?” I tsing menyebut negara itu Mo-ho-tsin, Sriwijaya menyebutnya Bhumijawa, dan orang  Sunda menyebutnya Medang Agung. I tsing diperkirakan datang langsung kepusat kerajaan Mahasin pada tahun 692 atau 6 tahun setelah Sriwijaya menundukan Mahasin dan mendapatkan sebelah barat keraton mahasin  yang sekarang jadi wilayah Pekalongan terdapat atribut -atribut agama Budha . Itulah sebabnya I tsing memberitakan “Mo - ho - tsin adalah negara di laut selatan yang beragama Budha.. Sampai saat ini di wilayah Pekalongan terdapat tempat-tempat dengan atribut kebudhaan seperti  Kasogatan, Sangkara, Pavitra, Mayonang, Buaran dll. Sedangkan  Sriwijaya mengartikan nama suatu negara  identik dengan pelabuhan negara itu. Diduga toponim “Bhumi Jawa” itu adalah nama  dari pelabuhan Tegal pada Abad VII. Toponim “Bhumijawa” sekarang terdapat 30 km selatan kota Tegal . Adapun Sebutan “Medang Agung” berangkat dari Fakta bahwa  pada Akhir Abad VII di pulau Jawa  terdapat banyak tempat bernama “Medang”, tapi hanya satu yang terbesar dan  megah  yaitu  “Medang Kamulan “ alias Mahasin. Dengan demikian “wacana” Masin sebagai pusat kerajaan Mahasin  meningkat statusnya menjadi “dugaan kuat” atau prediksi. Tapi kepastian nya menunggu kiprah para ahli sejarah untuk membuat peninggalan  arkeologi Abad VII di Batang , Pekalongan. Pemalang dan Tegal  “berbicara” menceritakan riwayatnya masing-masisng.

1 komentar:

  1. Sangat informatif, saya ini lagi melakukan penelitian untuk kerajaan mahasin. Bisakah untuk berbagi info pak ke email Imam.fajrul7@gmail.com Matur sembah suwun

    BalasHapus